Ladang Tandus

Suatu hari di suatu tempat yang indah, disana banyak sekali ragam flora dan fauna menghampar seperti permadani yang indah dan lengkap beserta isinya. Wow … “surga dunia ini pasti” kataku dalam hati. Sejauh mata memandang tampak hijau dan banyak pohon – pohon yang buahnya juga sudah masak dan ranum. Ingin sekali aku memanennya dan menikmati buah-buahan yang ada disitu. Kesejukan udaranya tak kalah nikmat.sabana

Tapi tiba – tiba aku dikejutkan oleh suara seorang kakek – kakek dengan nada yang cukup keras dan seketika aku menoleh kearah sumber suara itu. Dia berkata, “Hai anak muda, sedang apa kamu diladangku ?” Sambil berkacak pinggang dan badan yang masih tegap, mungkin mantan Tentara atau Olahragawan atau mungkin juga seorang ulama yang giat berolahraga karena selain tegap wajahnya juga terlihat bersinar cerah tanda sering dibersihkan dengan air wudlhu.

“mmh … saya hanya ingin menikmati suasananya pak. ” jawabku singkat.

“Bagaimana menurutmu ladangku ? indah ya .. buah – buahannya juga terlihat menggiurkan ya .. udaranya segar juga kan .. Itu semua hasil kerja kerasku selama ini merawat Anugerah Tuhan. Apabila kamu mau ladang seperti ladangku ini kamu harus berusaha jangan seenaknya saja tinggal menikmati ladang orang lain. ”

“Tuh .. liat disana .. ” Sambil menunjuk keujung ladang sebelah kanan. “Masih ada ladang yang belum ada pemiliknya, garap saja. Beri pupuk, tanami dengan bibit yang bagus, sirami dengan rutin. Jangan lupa cabuti rumput – rumput liar yang mengganggu tanamanmu untuk berkembang”.

Setelah aku amati dari jauh, “wah boleh juga tuh ada ladang disana” kataku dalam hati. Kudekati dan kuamati ladang itu, ada yang aneh … mengapa ladang ini kering dan tandus ya ? Kuamati lebih dalam lagi, seperti orang menginvestigasi sebuah TKP (Tempat Kejadian Perkara) dan ternyata aku melihat ada bekas beberapa tapak kaki hewan buas. Sepertinya sih ini tapak kaki singa, anjing hutan, dan cheetah. Wah ngeri juga nih .. jika hewan – hewan itu kembali bagaimana ini .. Tapi akhirnya kuputuskan untuk menggarap ladang ini.

Kusiapkan semua peralatan mulai dari cangkul, sekop, pupuk, dan semua peralatan pendukung untuk menggarap ladang itu. Setelah semua perlengkapan siap, mulailah kucangkuli ladang itu kemudian diberi pupuk, disiram. Kutunggu beberapa waktu kemudian kutanami dengan bibit dengan kualitas yang bagus dengan harapan akan menghasilkan buah yang bagus pula. Dengan penuh kesabaran, ketekunan dan keuletan aku merawat ladang itu hingga akhirnya tumbuhlah bibit yang kutanam menjadi tunas – tunas muda yang siap tumbuh dan berkembang menjadi pohon yang kokoh dan berbuah lebat dan enak (semoga saja demikian).

Akan tetapi seiring dengan tumbuhnya bibit itu masalah juga mulai muncul. Rumput – rumput liar mulai bermunculan disana sini, sedikit demi sedikit aku coba untuk menyiangi dengan peralatan yang kupunya. Capek, letih, lelah, penat, dan jenuh kadang menghampiriku. Kadang – kadang dongkol juga sama yang namanya rumput dan gulma, sudah dicabut berkali-kali masih saja tumbuh …

Ternyata berat juga ya menggarap ladang itu, pantas saja pak tua itu sewot saat aku sejenak istirahat sambil menikmati pemandangan yang begitu indah. Apakah aku bisa terus bersabar untuk menggarap ladang tandus itu dan berharap suatu saat nanti akan menjadi subur dan indah seperti milik pak tua itu, ataukah harus kutinggalkan hasil kerjaku selama ini dan mencari ladang yang lain yang mungkin kondisinya berbeda atau yang lebih baik menurutku. Apakah Tuhan diam saja melihat kondisi yang seperti ini. Ya Tuhan, aku mohon petunjuk-Mu berilah aku jalan yang terang, hamba ini tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan-Mu Tuhan. Aku tahu dulu memang ini pilihanku, apakah aku terlalu sombong hingga dengan “pede”nya untuk memilih ladang ini dan yakin bisa kuat menggarap ladang ini tapi ternyata sekarang aku tahu aku ini orang lemah yang tak punya daya apa-apa. Melawan rumput dan gulma saja aku sudah mau menyerah kalah. Ya Tuhan kupasrahkan semuanya kepada-Mu. Aku yakin dibalik semua kesulitan pasti ada kemudahan, akan tetapi dari kalimat itu tersirat juga dibalik kemudahan pasti ada kesulitan yang siap menghadang. Semua kuserahkan kepada-Mu Tuhan, mohon diberikan jalan yang terbaik.

3 thoughts on “Ladang Tandus

  1. Kang Kombor Februari 1, 2007 pukul 7:45 am Reply

    Kalau sudah dipilih ya sebaiknya ditekuni. Apalagi kalau itu merupakan hal yang tidak remeh. Yang nggak Kang?

    Suka

  2. andi Februari 1, 2007 pukul 8:49 am Reply

    @Kang Kombor
    He eh kang .. sing penting ISTIQOMAH yo

    Suka

  3. John Agustus 26, 2015 pukul 11:03 am Reply

    termakasih infonya, sangat bermanfaat , Abdukrahman

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: