Harga Menjadi Bintang

Kompas

Susi Ivvaty

Tiga stasiun televisi sedang ingar-bingar menggelar ajang pencarian bakat. Indonesian Idol 3, Kontes Dangdut TPI (KDI) 3, dan Akademi Fantasi Indosiar (AFI) 2006 yang sudah memasuki babak eliminasi. Berapakah harga yang harus dipikul untuk menjadi bintang?

Di balik layar, keluarga, teman, dan kerabat terus menekan tombol telepon seluler, mengirim layanan pesan singkat (SMS) untuk memberi dukungan kepada sang jagoan. SMS bertarif Rp 2.000 per SMS yang dikirim ke shortcode empat digit terus menyerbu. Rp 2.000 ini kemudian dibagi tiga, untuk operator telepon seluler, stasiun televisi, dan provider. SMS dengan tarif enam kali lipat dibandingkan tarif SMS reguler ini memang masih dipertahankan sebagai cara penentuan pemenang kontes. Orang bisa mengirim SMS setiap hari, sampai pulsa terkuras habis.

”Namun, kami nggak rakus mengambil uangnya. Sistemnya memang demikian, ya apa boleh buat,” kilah Gufroni Sakaril, Manajer Humas Indosiar.

Sistem ini berbeda dengan American Idol. Di ajang yang menyerap penonton sangat besar dan disponsori, antara lain oleh Coca-Cola serta Ford ini, pemilih bisa menelepon secara gratis untuk menjagokan favoritnya. Waktu untuk berkirim SMS pun dibatasi, setiap Selasa setelah kontes usai.

Memang mahal harga yang harus dibayar untuk menjadi bintang. Beberapa waktu lalu sempat muncul e-mail tentang bintang AFI yang hingga saat ini—katanya—masih ngutang gara-gara keluarganya tak henti mengirim SMS. E-mail itu mengundang banyak komentar, terutama dari para netter.

”Pemerintah harus bertindak,” tulis seorang pengirim e-mail. Tidak hanya masalah tarif SMS yang seperti mengadali konsumen, komentar sampai mempersoalkan mentalitas orang Indonesia yang menggandrungi budaya instan untuk sebuah popularitas.

Nama yang disebut jelas dalam e-mail itu adalah Fibri, finalis AFI 2005 asal Solo, Jawa Tengah. Orangtua Fibri, katanya, mengeluarkan modal hingga Rp 200 juta lebih untuk mengirim SMS. Fibri (21), bernama lengkap Fibri Hening Marutani Anggia Murni, tidak mengelak mengenai usaha orangtuanya itu.

”Memang sangat banyak, tapi tidak sampai Rp 200 juta. Orangtua saya ingin berbuat apa pun untuk anak tercinta,” katanya kepada Kompas. Beruntung orangtua Fibri itu wirausaha batik tulis yang sukses.

Fibri sendiri mengikuti kontes sejak AFI 1, tetapi selalu gagal, dan baru berhasil di AFI 2005. Fibri yang masih tercatat sebagai mahasiswi Universitas Negeri Solo pernah les menyanyi dan kerap mendapat tanggapan menyanyi di acara pernikahan serta restoran. Setelah di AFI, Fibri cuti kuliah.

Keluarga Davi KDI 2 melakukan hal yang sama seperti orangtua Fibri. Mereka jungkir balik mencari dukungan SMS agar penyanyi asal Palembang itu terdongkrak hingga lolos sampai ke Jakarta.

Ahmad Adillah (Adi), kakak Davi, mengungkapkan, ia membuat kartu selebaran sekitar 10.000 lembar yang isinya meminta dukungan SMS. Selebaran itu mengeruk kantong sekitar Rp 2 juta. Bagi keluarga sederhana itu, Rp 2 juta bukan jumlah sedikit. Adi harus menggalang dana dari keluarga besarnya di desa-desa. ”Ada yang menyumbang Rp 100.000, ada yang Rp 500.000. Pokoknya, semua berjuang demi Davi,” katanya.

Selain itu, Adi dan saudara lainnya juga membuat proposal bantuan dana untuk diajukan ke berbagai kantor instansi pemerintah di Provinsi Sumatera Selatan. Jerih payah itu membuahkan hasil. Adi mendapat sumbangan dari Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sebesar Rp 2 juta.

Setelah kontes di Jakarta, Adi kembali memasukkan proposal kepada Wali Kota Palembang dan mendapat dana Rp 1 juta. Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin juga menyumbang sekitar Rp 7 juta dalam bentuk voucher pulsa.

Ekabima KDI 2 bahkan harus rela menjual motor kesayangannya untuk modal ikut kontes. Ditambah bantuan dari saudaranya di Kalimantan, terkumpul uang Rp 20 juta untuk ongkos bolak-balik Bima-Bali (Eka mengikuti audisi di Bali) dan akomodasi lain. Untuk modal SMS, Eka tidak mengetahui berapa uang yang dikeluarkan keluarganya.

Fenomena Delon

Jangan melihat Delon jika ingin mengukur sukses bintang-bintang ajang kontes itu. Selain juara, ia juga tak pernah sepi tawaran. Ia juga terlibat di film layar lebar Vina Bilang Cinta bersama Rachel Maryam. Saat ini Delon selain sudah mempunyai apartemen dan mobil, juga bisa membelikan mobil untuk ibu dan kakaknya. Menjadi Delon memang impian para peserta ajang kontes menyanyi itu.

Delon bersama Lucky, Bona, Winda, Suci, Andika, serta Michael (Idol 1), dan juga Mike, Judika, Firman, Monita, Yudi, Clen, serta Maya (Idol 2) saat ini dikontrak Indomugi Pratama (IP) selama tiga tahun.

General Manager IP Entertainment Lolita Malaiholo mengatakan, tugas IP adalah memelihara mereka agar bisa terus berkarya, manggung di mana-mana. ”Kami memilih nama-nama itu karena pertimbangan kualitas suara serta visi dan misi yang sama dengan kami,” katanya.

Setiap bintang di IP juga mempunyai asisten dan manajer bisnis sendiri. ”Kami mengusahakan job untuk mereka. Standar kami, mereka harus bisa punya rumah dan mobil,” kata istri Harvey Malaiholo itu.

Berbeda dengan gemerlapnya Delon, Ekabima KDI 2 masih harus mengontrak rumah di Ciledug. Ia mendapat honor Rp 950.000 untuk sekali manggung di TPI. Sementara untuk manggung ke luar kota, meski honor lebih besar, potongannya besar pula. ”Harus pinter-pinter ngatur uang. Anak KDI itu banyak sekali dan job harus dibagi rata. Saya pun tak berani kalau keseringan makan di mal,” katanya.

Fibri bersama kawannya, Yuke AFI dan Sutha AFI, saat ini indekos dengan harga beberapa ratus ribu rupiah sebulan. Dengan jumlah bintang AFI yang mencapai 48 orang (tahun ini ditambah lagi), bukankah kemungkinan mendapat job menjadi lebih kecil?

Manajer Humas Indosiar Gufroni Sakaril mengatakan, mereka akan bebas memilih jalan sendiri setelah kontrak selesai, apakah tetap dengan Indosiar atau manajemen lain.

Modal SMS memang tak akan menentukan sukses seseorang. Yang utama adalah mental dan kualitas. Soal rezeki? Itu ada di tangan Tuhan, kata mereka….

(Dahono Fitrianto/ Lusiana Indriasari)

7 thoughts on “Harga Menjadi Bintang

  1. Everything Is POSSIBLE Juni 14, 2006 pukul 3:00 am Reply

    Artis AFI tidak seperti yang kita bayangkan…

    Dari Milis Sebelah
    Dua hari yang lalu gw ketemu dengan salah seorang
    personel AFI (Akademi Fantasi Indosiar). Selain lepas
    kangen (he..he) gw juga dapat cerita seru dari
    kehidupan mereka.
    Di balik image mereka yang gemerlap saat manggung atau
    ketika no…

    Suka

  2. johan Juni 16, 2006 pukul 4:02 am Reply

    ironi sebuah sistem pengkarbitan!

    Suka

  3. Tika Juni 18, 2006 pukul 4:38 am Reply

    Ckk..ck..ternyata begitu ya….
    Eh Ndik aku kasih pe er lagi ya, tenang aja yang sekarang gampang kok….liat di blogku ya…

    Suka

  4. uniq Juli 12, 2006 pukul 6:07 am Reply

    Ah masak sih??tapi kok blm ada yg berani meng-exspose ya????harusnya ada kriteria kejelasan dalam penilaian?ya misalnya kualitas seorang bintang dikemanakan???geto loech??trus apa cukup dengan kalkulasi sms yg mendukung????kualias mann??kualitas??

    Suka

  5. eryna.... Desember 17, 2006 pukul 3:29 pm Reply

    afi tuh membosankan tau g seee.apalagi kontestannya g berkualitas bgt.g mood deeee denger anak2 afi nyanyi.serius gue gtu lhooo……..!kalah ma indonesian idol lebih ok,lebih rame,lebih berkualitas,pokoknya lebih segalanya deeeeeee.afi bedaaaaaaa jauh ma indonesian idol.males dehh ngliat afi.

    Suka

  6. Enta Raissa Januari 13, 2007 pukul 9:50 am Reply

    Dulu gw cintrong bgt ma AFI, tp bgt AFI 2 abiz gw langsung cintrong ma Indonesian Idol. Klo gw disuruh milih AFI apa Indonesian Idol, gw pilih Idol dah! AFI mah udah g ada pamor.

    Suka

  7. Noer Januari 14, 2009 pukul 5:04 pm Reply

    Klo bintang kdi aq salut bwanget ma Dina kdi3. Dia tu slaen pnya kwalitas suara yg oke aksi panggungnya jg asyik bwanget

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: