Indahnya keterikatan

Borgol

Tidak ada sesuatu yang bebas di alam raya ini.

Kalimat ini baru muncul dipikiranku saat pulang dari kantor kemaren sore, saat hujan gerimis.

Sebenarnya sudah aku merasakan ketidakbebasan ini saat aku iseng keluar malam-malam karena gak bisa tidur. Aku melihat bintang yang bertebaran di langit sambil berpikir seenaknya dan muncul pernyataan bahwa bintang itu beredar sesuai dengan garis edarnya, bumi, bulan, matahari, dan yang membuat aku kaget saat aku punya pemikiran bahwa manusiapun “terpenjara”. Banyak DPR, MPR, Ormas, LSM, NGO, yang mengumandangkan tentang kebebasan, demokrasi yang bebas, negara yang merdeka. Pada intinya setiap individu manusia akan selalu terikat dan terbelenggu. Mungkin mereka ini belum menyadari bahwa tidak ada kebebasan yang mutlak di alam semesta ini, semua pasti tunduk pada aturan baik itu terulis ataupun tidak, yang pada akhirnya saling gontok-gontokan cari menang sendiri atau kelompok.

Coba kita sadari tentang semua keterikatan yang ada pada diri kita masing-masing.

Sejak kita lahir sudah ditetapkan Tuhan bahwa kita tidak bebas bergerak seperti sekarang, hanya bisa nangis dan ketawa, belum bisa bicara dan berlari seperti sekarang. Makanan yang dimakanpun masih sangat terbatas. Ketika sudah mulai tumbuh dan berkembang kita sudah harus taat pada aturan orang tua, komunitas, agama, dan lain sebagainya. Maka kita juga terikat dan tidak bebas melakukan apa saja. Secara tidak sadar kita terpenjara oleh semuanya itu dan itu yang membuat orang pusing dan tidak puas dengan berbagai macam hal, seperti pekerjaan yang mengikat, rumah tangga / keluarga, negara, lingkungan sekitar, pergaulan, dan lain sebagainya.

Lain halnya apabila kita sadar bahwa hidup ini penuh dengan keterikatan. Maka akan muncul Toleransi, pengertian, menghargai, memaafkan, syukur, pujian.
Dengan kesadaran akan keterikatan kita dengan orang lain, system, aturan tertulis ataupun tidak, kita akan merasa lebih tenang dan dapat melihat indahnya dunia yang diciptakan Tuhan dan akan selalu mengagumi-Nya. Coba saja kita pikirkan apabila semua yang ada di alam ini dapat melakukan sesuatu sekehendak hatinya, semaunya sendiri, mungkin kita belum sampai lahir sudah hancur alam semesta ini. Matahari berputar seenaknya, bumipun demikian, galaxy dan lain sebagainya entah akan terjadi seperti apa.

7 thoughts on “Indahnya keterikatan

  1. Jauhari Januari 25, 2006 pukul 8:07 am Reply

    Komentar dulu baru baca (Kalau sempat)

    *halah

    Suka

  2. andi Januari 25, 2006 pukul 9:04 am Reply

    walah .. din .. tapi topik bagus untuk presentasi lho din (ada acara presentasi dikantor .. teman 2x😀 )

    Suka

  3. pEMBACA SETIA Januari 25, 2006 pukul 12:52 pm Reply

    YO ENAK BEBAS …🙂

    Suka

  4. andi Januari 26, 2006 pukul 4:25 am Reply

    sebebas apa yang dikehendaki sama mas bahtiar ??

    Suka

  5. Tika Maret 22, 2006 pukul 3:43 am Reply

    Setuju… Karena itu aturan-aturan Islam itu indah…. Kalo gak ada aturan, rasanya ga ada gunanya manusia hidup…

    Suka

  6. Tika April 21, 2006 pukul 3:36 am Reply

    Hik..hik..blogku kok gak dimasukin ke ‘Temans’?

    Suka

  7. Hanum Mei 2, 2006 pukul 2:26 am Reply

    Setujuuuuu. Btw. mohon ijin pak, tulisannya aku forward ke teman2 yg lain ya. bagus banget je. makasih pencerahannya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: