Arsip untuk April, 2007|Halaman arsip bulanan

Ku Disini – Sherina Primadona

Album baru Sherina ini enak banget didengar, jadi ingin mengabadikan liriknya .. jieee :)

Stop redam amarah mu
Namun jangan berlalu
Hentikan tangismu
Lenyapkan ragumu
Yang selalu lupakan
Semua nya tlah termaafkan
Tataplah hari baru
Berlari bersamaku
Jangan menyerah kudisini
Genggam erat tanganku
Jangan sembunyi, kudisini
Genggam erat jiwaku..Ooo

Reff :
————————————–
Jangan menyerah ku disni
genggan erat tanganku. Jangan sembunyi ku disini
Genggam erat jiwaku
————————————–

Lihat wajahku lagi
Lihat wajahmu lagi
Katakan cinta mu
Dan untuk selamanya
Jangan menyerah ku disini
Genggam erat tanganmu
Jangan sembunyi kudisini
Genggam erat jiwaku,,Oooooo

Reff :
—————————————–
Jangan menyerah kudisini.. Disini
Genggam erat tgn ku
Jangan sembunyi kudisini
Genggamm erat jiwaku,,Oooo
—————————————-

Download Lagunya disini

Enam Penyebab Pria Berselingkuh

Agus dan Rita adalah tipikal pasangan pacar orang Sunda di mana sang pria memiliki panggilan ‘Aa’ dengan wanitanya ‘Neng’.

Satu  bulan pertama bagi Agus dan Rita adalah surga. Tiga bulan kemudian adalah panggilan bangun tidur bagi mereka dan mendekati 9 bulan pacaran,drama dimulai. Pacaran dengan Rita lebih sulit dari merancang dimensi TORA  (Take Off Runway Area) sebuah airport.

Menentukan TORA, mudah. TORA untuk airport yang dirancang menerima pesawat kelas Boeing 737 lebih panjang dari TORA untuk pesawat kelas Fokker.

Ada penuntunnya, ada tabelnya dan ada rumusnya. Bahkan ada asosiasi internasional yang  mengatur dan memastikan semua terbangun dan ter-set-up dengan baik.

Berpacaran dengan Rita, semua petunjuk datang dari wangsit dukun.

1. Cemburu
Rita menatap Agus dengan tajam. Kedua tangannya melipat defensif,  menunjukkan sikap penuh permusuhan.
Agus sedang mengonsumsi dosis harian menerima semprotan Rita. Satu isu kecil dapat berubah menjadi letusan gunung.

“Kenapa semalem Neng nelepon gak Aa’ bales?”

“Geulis (cantik)…, soalnya Aa’ semalem baru pulang jam 2.”

“Ngapain aja?” Mata Rita semakin tajam , membuat Agus merasa seperti imigran gelap yang sedang diinterogasi petugas imigrasi.

“Aa’…Aa’ semalem kan siaran.”

” Kan sampe jam dua belas.”

“Abis itu, mengantarkan pulang Risa…” Kesalahan terbesar kebanyakan pria adalah kejujuran.

“Enak amat yah jadi Risa. Dianter kamu pulang malem-malem. Padahal kan  dia bukan pacar kamu…”

Matanya semakin hostile. Agus menggaruk-garuk kepalanya. Dia mulai mengerti maksud omongan Rita.

Sudah saatnya wanita bersikap mandiri dan mampu pulang sendiri ke rumahnya di tengah malam melewati gang-gang penuh preman, maling pemerkosa. Belum lagi resiko dicabik-cabik anjing liar gila.

Di tahap ini, pembantu Rita yang berprofesi ganda sebagai pengamat sinetron Indonesia secara transparan berpura-pura tidak menguping pertengkaran.

“Daerah rumah dia kan Cikaso. Gak aman.”

“Suruh dia pindah rumah dong. Biar kamu gak perlu anter-anter,” ujar Rita sambil mengabaikan beberapa faktor kecil seperti:
a. Bahwa mencari rumah baru sulit
b. Harga rumah mahal

“Neng kenapa sih mesti cemburu?”

“Cemburu?Neng gak cemburu. Siapa yang cemburu? Apakah Neng terdengar seperti orang yang cemburu?

“Menurut kamu ini cemburu? Menurut kamu Neng cemburuan? Nggak!” dengan desibel yang meningkat dari 8 kali level normal dengan dahi berkerut.

2. Dominasi

Ini adalah agenda keseharian Agus.
Pagi – Antar Rita ke kampusnya.
Siang – Mendatangi Rita di kampusnya, makan siang bersama.
Sore – Menjemput Rita dari kampus.
Malam – Menelpon Rita.

Agus mulai jengah dengan aktivitas yang menuntut mobilisasi tinggi ini.
Dia mengusulkan agar Rita juga pro-aktif untuk pergi ke kampus Agus sesekali dan mengurangi frekuensi pertemuan.

“Neng, kalo kayak gini terus, Aa’ bisa cacat permanen dan jatuh miskin.”

“Katanya sayang?”

“Gak mesti tiap hari kan ketemuan?”

“Kan kangen A’.”

“Kalo Neng kangen, ya Neng juga dong sekali-kali pergi ke kampus Aa’.”

“Nggak. Aa’ aja yang ke kampus Neng.”

“Ntar Aa’ kecapekan.”

“Kalo sebaliknya, Neng dong yang kecapekan.”

“AAAARRRGGGHHHHHHH”

3. Sensitifitas

“Neng keliatan gendut gak sih Aa’?”

“Nggak.”

“Liat dong ke Neng kalo bicara.”

“Oke.”

“Gendut ah.”

“Nggak kok sayang.”

“Gendut.”

“Ya mungkin sedikit perlu fitness kali ya?”

“JADI MENURUT AA’, NENG GENDUT? TEGA!”

“Loh?”

“Apa liat-liat?”

“Tadi katanya disuruh liat.”

“Liatin saya gendut?”

“Aa’ minta obat tidur…4 butir…please.”

“Buat?”

“Bunuh diri.”

“Kenapa mau bunuh diri? Malu yah punya pacar gendut?”

“ARRRGGGHHHHH!!!”

4. Drama…drama…drama

“Halo?”

“Halo? Aa’ ya?”

“Iya sayang, Neng, Aa’ gak bisa ke rumah malem ini gak apa-apa ya?”

“Kenapa?”

“Aa’ mau pergi sama temen-temen. Bimo ulang tahun dan mau nraktir makan.”

“Nggak. Aa’ ke sini sekarang juga.”

“Tapi Neng, semua anak-anak pada ikutan.”

“Jadi Aa’ lebih seneng bergaul sama temen-temen Aa’ daripada sama Neng?”

“Bukan gitu, ketemu kamu kan udah tiap hari. Bimo ulang tahun kan cuman  sekali setahun.”

“Bilang aja lebih sayang Bimo ketimbang sama Neng.”

“Nggak kok, kamuh gak nangkep nih esensinya.”

“Saya cuman sapi gila yang kamu gandeng kemana-mana.. ya, kan?”

“Sapi sih nggak ya..”

“Hu hu hu.. udah gak ada yang sayang lagi sama Neng di dunia ini..”

“Ehm…cup cup sayang…duh, bageur…..”

“Neng mending mati aja sekalian… giles aja Neng sekalian sama truk ayam, A’.”

“Aduh Neng, ini bukan masalah yang besar kok, cuman semalem aja.”

“Kalo bukan masalah yang besar berarti Aa’ bisa ke sini, kan?”

“…..”

5. Teman

“Saya gak suka sama sahabat-sahabat kamu. Yang satu bau. Yang satu logat Sumateranya nyeremin dan yang paling Neng gak suka, yang paling deket sama kamu itu… tukang maenin cewek!”

6. Makna ganda

Agus mulai menyadari perkataan Doni di UNJAT dulu bahwa terkadang wanita bisa menjadi makhluk yang kompleks. Mereka berjalan-jalan di shopping mall.

Minggu depan adalah ulang tahun Rita.  “Ih, bagus yah sepatu ini,” ujar Rita menatap sepasang sepatu.

“Kamu mau Aa’ beliin ini untuk ulang tahun kamu?”

“Nggak lah nggak usah.”

“…..Oke…” Agus melanjutkan jalan-jalannya, meninggalkan Rita yang masih berdiri di depan etalase sepatu.

“Kok segitu aja?”

“??”

“Paksa dong bujuk Neng supaya mau.”

“Kamu tadi baru bilang bahwa kamu nggak mau.”

“Iya, tapi bukan berarti saya gak mau, kan ?”

“Jadi kalo kamu bilang gak mau, itu artinya kamu mau?”

“Belum tentu juga.”

“Kalo kamu bilang mau, itu artinya kamu gak mau?”

“Belum tentu juga.”

Garuk. Agus garuk-garuk.

Cerita ini diambil dari Serial Jomblo di Televisi

Pemerintah Memonopoli Karyawannya

Sampai saat ini Pemerintah Indonesia mendominasi “Karyawan”nya pada posisi tertentu dengan suatu instansi khusus yang diciptakan untuk menduduki posisi sangat penting, penting, kurang penting, bahkan tidak penting. Bagaimana tidak, instansi – instansi khusus yang dibentuk Pemerintah seolah – olah hanya memandang sebelah mata para lulusan Universitas baik yang terkenal ataupun tidak terkenal di Indonesia.

Bisa dibayangkan, setiap tahun Seluruh Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, dan yang sederajat lainnya telah meluluskan banyak insan yang saya yakin diantara jutaan orang tersebut mampu bersaing sehat untuk menduduki posisi – posisi di pemerintahan. Tetapi apa yang terjadi, mayoritas kedudukan itu diduduki oleh lulusan – lulusan instansi khusus bentukan pemerintah itu sendiri.

Contoh Instansi khusus itu adalah IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) dan STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Apakah sedemikian khususnya Pemerintah “mempertahankan budaya” dalam diri Pemerintahan sehingga harus membuat instansi ini. Demikian halnya dengan SMU Taruna Nusantara dan AKABRI yang bertugas untuk mencetak calon – calon “Jenderal”, padahal jutaan tentara yang meniti karir dari bawah yang mimpi untuk menjadi sang “Jenderal” hanya sebuah isapan jempol bagaikan pungguk merindukan bulan. :D

Kasus IPDN yang marak sekarang ini mungkin hanya sebagian kecil dari budaya yang masih dipertahankan untuk mencetak calon – calon pejabat Pemerintah. Padahal menurut pengakuan mantan siswa STPDN atau IPDN semua pernah mengalami hal yang serupa. Mengapa Pemerintah masih mempertahankan budayanya, padahal akan membuat Indonesia ini semakin terpuruk.

Mungkin bukan sosok presiden seperti SBY yang patut disalahkan atas kelestarian budaya semacam ini, tapi aparat – aparat dibawah SBY yang tetap mempertahankan kelestarian budaya seperti ini agar posisi, kedudukan, dan keberadaan mereka tetap exist dan tampak bersih dari noda – noda kebobrokan bangsa.

Saya jadi teringat kasus kecil jauh dari sistem pemerintahan yang kompleks yaitu keberadaan seorang Kepala Desa. Ini satu contoh dengan ruang lingkup kecil dibandingkan dengan lingkup Pemerintahan Indonesia. Kejadian ini saya alami sendiri saat ayah saya ingin membangun desanya, karena merasa sebagai anak desa dan ingin membangun desanya untuk menjadi desa yang makmur dan bebas dari kotoran – kotoran yang selama ini mendominasi berbagai kebijakan pemerintah desa.

Berdasarkan pengalaman ini saya coba ceritakan secara singkat opini, kondisi, situasi dari desa ini. Kepala Desa sebelumnya adalah kerabat ayah sendiri yang telah menjalankan pemerintahan desa selama kurang lebih 8 tahun. Memang seperti sebuah tradisi bahwa yang menjadi kepala desa adalah dari kalangan “keluarga” sendiri. Nah, melihat kondisi yang bobrok seperti ini ayah ingin membangun desanya hingga bersih dari noda dan makmur.

Kendala yang dihadapi cukup banyak, antara lain dari :

  1. Pihak Kepala Desa sebelumnya (saudara sendiri), karena tidak ingin kebobrokannya terbongkat akhirnya harus “bermain” muka dua, satu sisi baik terhadap ayah sedang sisi lain mendukung calon bentukan kelompoknya.
  2. Saingan adalah “keluarga” juga, karena masih keluarga ayah menghargai dan menghormati keluarga mereka, akan tetapi feedback yang didapatkan malah ancaman, kekerasan, premanisme, dukunisme, propaganda.
  3. Warga Desa, banyak dari warga desa yang menginginkan pembaruan desa untuk menjadi yang baik dan makmur. Akan tetapi masih mau menerima Angpao (Money Politics) dari Calon Kades. Biasanya warga seperti ini mayoritas petani dan buruh tani dengan tingkat pendidikan rendah. Mentalitas Warga yang rusak dan merupakan mayoritas adalah kondisi yang baik untuk melestarikan kebobrokan Desa. Warga Desa yang acuh akan pemerintahan desa juga memperburuk kondisi karena mereka tidak merasakan manfaat dari adanya kepemerintahan desa. Baik atau buruk kondisi pemerintahan desa tidak mempengaruh kenyamanan mereka hidup didesa itu. Biasanya warga seperti ini adalah pegawai, karyawan dan sebangsanya.
  4. Aparat bejat, jelas mereka akan mendukung saingan ayah karena merasa tidak aman posisinya jika ayah yang menduduki posisi sebagai Kepala Desa. Bahkan mungkin bisa di bui karena kebobrokannya terbongkar semua.
  5. Badan Kontrol Pemerintah Desa (dulu LKMD, sekarang BPD) yang setali tiga uang dengan pemerintahan Desa,membuat lengkap kebobrokan desa. BPD bukan sebagai Badan Pengontrol tetapi sebagai Bada Pemalak dari hasil jarahan Pemerintah.

Akhir cerita, ayah kalah dalam pencalonan Kepala Desa dan otomatis dimenangkan oleh kroni sebelumnya. Kembali ke kondisi diatas, apakah Pemerintah Indonesia tercinta seperti ini juga kondisinya ? Tanya Kenapa ? :D

Solusinya ? tunggu posting berikutnya ….